![]() | |||
| Mulailah Bergerak |
Suasana yang membuat bulu kuduk merinding dan kesunyian yang membawa petaka bagi yang
memasuki hutan terlarang. Hutan yang sudah ada selama 3 abad ini memiliki
sejarah kelam yang tak bisa ditafsirkan lewat ucapan. Wajar hutan ini memiliki
kekuatan supranatural yang membuat orang masuk kedalamnya tak akan bisa keluar
kembali, melainkan menjadi tulang-belulang atau santapan para monster besar
yang orang biasa menyebutnya orge. Kaki mulai lelah dan tubuh bercucuran darah
yang masih segar membuat aroma sedap para orge untuk mengendus keberadaan
manusia yang dijadikan makananya. Aslan tak tahu lagi jalan keluar dari hutan
ini ditambah dengan banyaknya luka ditubuhnya. Deritanya mengatakan bahwa
inilah akhir hidupnya, namun semangat jiwa ksatrianya menumbuhkan rasa ingin
hidup yang tinggi.
“Ah,
aku tidak tau lagi harus kemana, hutan ini seperti labirin yang besar”
“Jika
Aku mati disini, tamatlah sudah kerajaan Khalifans, bagaimana pun aku harus
berusaha untuk hidup”
Mungkin
inilah kebimbangan yang dihadapi Aslan ditambah lagi orge yang mulai lapar itu
mulai terlihat , berlari mengejar Aslan.
“Tidak,
ada apa lagi ini, sepertinya aku mengendus bau monster yang mau memakanku”
“Ya,Aku
harus berlari secepat mungkin, walau derita luka ditubuhku ini menghambat gerak
langkahku.
Dengan tergesa-gesa Aslan berlari kepanyangan,
berdoa menemukan jalan keluar dari hutan dan terhindar dari kejaran monster
orge itu. Namun, akhirnya aslan harus terpaku jatuh dengan tubuh penuh lukanya,
ya Aslan tak kuat lagi melangkah, hingga segerombolan orge itu mengintarinya
berebut tubuh Aslan yang sudah rapuh itu.
“Hmm,
mungkin inilah yang harus aku terima, jatuh di tempat hina ini. Aku sudah tidak
kuat lagi tuk melangkah, memang inilah akhirnya aku adalah orang yang gagal
menajdi ksatria, memang aku ditakdirkan untuk mati disini. Biarlah tubuh ini
menjadi santapan monster”.
Ditengah keputusasan Aslan akan kehidupan,
munculah sang prajurit putih. Prajutir putih ini menjadi legenda hutan
terlarang, taka da orang yang mau bertemu dengan karena ketakutan akan
kemisteriusannya itu.
“Wahai
pedangku, bakarlah orge jahat itu”
Aksi heroik yang dilakukan prajurtit putih,
yang membakar kawanan orge dengan
tebasan pedangnya dan membebaskan Aslan dari kematiannya. Dengan wajah yang tak
kuasa lagi untuk melihat, tubuh Aslan mulai lemas dan jatuh pingsan.
“Hei,nak
kau tidak,apa-apa”
“Apakah
dia pingsan?
“Ah,
dasar merepotkan”
Seketika itu pun prajurit putih membawa Aslan
pergi dari hutan terlarang. Disebuah gubuk tua yang berdebu, inilah tempat
tinggal penyihir putih itu. Hidup yang hanya ditemani oleh seekor kucing
Persia. Dirumahnya terpapar di sebuah rak buku yang berisi manuskrip kuno.
Segala sesuatu mengenai ilmu berpedang ada disini termasuk sejarah kemunculan
ksatria hitam.
“Dimanakah aku ini, tempat apa ini”
Aslan yang mulai siuman dari
pingsannya.
Disamping
itu terlihatlah Kakek tua yang dijuluki prajurit putih sedang mengatkan tubuh
diperapian.
“Permisi,
siapakah kau ini,kek,apakah kau yang menolongku”
Dengan
wajah masamnya kakek itu menjawabnya dengan rasa acuh tak acuh.
“Yaa,
akulah yang menolongmu,jika kau sudah baikkan cepatlah keluar dari sini”
Prajutrit putih jauh dari pergaulan
masyarakat hingga ia tak tau caranya bertutyr kata. Walau demikian,Aslan ingin
membuatnya lebih dekat hingga ia memperkenalkan diri padanya.
“hmh, perkenalkan namaku Aslan, jadi kau yang
sudah menolongku. Uh, maaf sudah merepotkanmu, kau sudah menyelamatkan nyawaku
ini, bahkan kau sudah mebalut luka ini.
“Wajahmu
mirip sekali dengan prajurit putih, apakah kau ini adalah dia?
Inilah
pertanyaan Aslan kepadanya yang membuat dirinya khawatir, kegagalan yang
berkali-kali untuk memulai sebuah pertemanan.
“Apakah
kau takut denganku, aku memilki kekuatannya yang aneh. Ya, memang aku inilah
prajurit putih, kau ini banyak bicara. Ketika kau sudah sembuh cepatlah keluar
dari rumah tua ini”
Dirinya hanya mengatakan dengan apa adanya
dengan nada ego dan tak sedap, seolah ia sudah yakin Aslan akan takut dan
mempersilahkan ia pergi. Namun Aslan tidak seperti orang kebayakan, Prajurit
putih adalah panutannya ia suka sekali dengan jiwa prajutit yang rela membantu
orang lain tanpa pamrih, menunjukan kemampuan hebatnya tanpa jumawa sedikit
pun. Dengan hal itulah Aslan menapik semua asumsi prajurit putih, bahkan Aslan
menginginkan dirinya menjadi murid sang prajurit putih itu.
“Dasar
dungu, kau tidak mengerti ya, aku tidak pernah mengakui dan menjadikan muridku,
lagi pula aku ini bukanlah sehebat yang kau banyangkan itu”
Dengan kenyakinannya Aslan ingin membuatnya
menjadi gurunya, guru berpedang setelah ia melihat keahlian yang menurutnya
jarang dimiliki manusia biasa.
“Kumohon,
padamu jadikanlah aku muridmu. Aku sungguh kagum padamu, jiwa ksatriamu serta
keahlian berpedangmu itu yang menurutku sungguh luar biasa”
Walau pada akhirnya terketuklah hati Masdar dan
menjadikan Aslan murid,namun ia masih
ragu, untuk itu ia menanyakan untuk apa ia berguru padanya, apa tekad dan
tujuanya.
“Untuk
apa tekadmu, jiwamu dan tujuanmu ini”
Aslan menunjukan kenyakinannya dan
mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Masdar, Hingga dengan berat hati
ia terpaksa mengikuti permitaan Aslan dengan menjadikannya murid.
“Baiklah,
kau belum kuanggap sebagai muridku, namun aku akan menerimamu menjadi calon
muridku”
Walau Masdar mengnggapnya sebagai
calon murid, hati Aslan sudah senang mendengarnya, jika ia sudah mau
mengakuinya.
“Mulai
besok bergegasah pergi kebukit itu aku akan mengajarkanmu latihan dasar
terlebih dahulu”
Sebilah pedang yang mulai tumpul
diberikan kepada Aslan sebagai latihan pertamanya untuk menjadi murid Masdar.
“Kuasailah
teknik ini terlebih dahulu, jika kau focus pada ketahanan otot lenganmu, sebuah
tebasan yang mampu menyayat pohon itu akan muncul, walau kau hanya menggunkan
pedang tumpul”.
Dengan pengamatannya, Masdar sudah
yakin dengan jiwa ksatrianya walau hanya menebas pohon dengan pedang tumpul.
Ditambah lagi ia sudah bisa menebak bahwasanya Aslan putra Asgar akan
mengakhiri kemunculan prajurit hitam yang mengancam dunia manusia. Namun, untuk
itu Masdar lebih melanjutkan kesesi latihan yang terberat bagi Aslan yaitu
dengan bertempur melawan orge raja, Seeokor orge berukuran besar yang uncul
secara tiba-tiba yang merusak gubuk tua prajurit putih itu. Demi melihat hasil
latihannya, Masdar menyerahkan semuanya kepada Aslan.
“Akan
kubuktikan, dengan jiwa,tekad dan kenyakinanku ini, dem mewujudkan cita-citaku
menjadi ksatria perubahan. Hasil kerja kerasku, latihan keras bersama guruku
akan kuakhiri kau orge jelek dengan tebasan pedang ini.”
Setelah beberapa menit bertarung
dengan orge raja, akhirnya dengan kehebatan berpedang Aslan, orge yang memiliki
kelemahan pada jantungnya. Pedang ditebas dan ditusukkan oleh Aslan pada
kelemahannya itu. Seketika itu orge raja sudah tak kuasa untuk bangkit, lalulah
orge raja itu mati terkapar dihadapan Aslan. Melihat kematian orge raja hasil
latihan berpedang selama 1 tahun lebih membuat Masdar, percaya dan yakin Aslan
adalah murid terhebat yang dimilikinya, Walau diantara murid Masdar mati
setelah bertarung dengan orge raja ini.
“Aslan
Kau memang muridku, tidak kau murid kebanggaanku, maafkan aku apabila selama
ini meragukan tekad dan jiwa ksatriamu, Aslan kau pantas memegang gelar sang
juru selamat, kstaria yang akan mengubah negeri ini”
Decak kagum pada diri Masdar melihat
muridnya sudah, ia anggap sebagai anak. Masdar memperlihatkan dan
mengjarkannnya jurus pamungkas kepada Aslan yang selama ini ia tidak pernah
ajarkan pada murid yang pernah ia miliki.
“Untuk
itulah, saat ini aku akan menunjukkan kepadamu, Extra Saint, jurus pamungkasku,
yang akan aku warisi kepadamu Aslan”
Rasa gembira meliputi hati Aslan,
dan Aslan belum pernah merasakan kebahagiaan ini setelah ia medapatkan
sanjungan dan ajaran jurus pamungkas Masdar.
“Guru,
Aku ucapkan terimaksih kepadamu, aku ingin mewarisi jurus tersebut, aku akan
mengabdi pada negeri ini,kan kutunjukkan bahwa kau tak salah memilihku,
mewarisi jurus pamungkas ini”
Semenjak itulah Masdar mulai
mengajarkan jurus Extra Saint, jurus yang memfokuskan pada energi alam dan
fisik manusia, bersatu padu dan menghasilkan serangan yang luar biasa. Sudah
berminggu-minggu Aslan diberi ajaran jurus ini. Hingga pada akhirnya ia mampu
menggunakan dengan baik dan benar.
Mentari pagi sudah tiba, rimbunan
hutan dan desahan angin yang pelan membuat suasana alam menyegarkan badan.
Pagi yang cerah ini sudah menandakan bahwa Aslan sudah siap memulai
perjuangannya,Ya kembali kepada kerajaan Khalifans. Disamping itu Masdar sudah
mengabarkannya bahwa ksatria hitam akan bangkit kembali pada malam bulan
purnama di tahun ini, tepat tanggal 2 spring. Ya, itulah yang dapat diramalkan
oleh Masdar lewat manuskrip kuno. Segel yang dipasang oleh Raja Asgar akan
segera terbuka. Itulah batas pelindungnya. Namun, lain dikata Raja Nandi tak
mengerti. Ia tak tau dan berlagak jumawa seolah dialah sang juru selamat yang
dikabarkan. Melihat hal itu Raja Nandi sedang gencar-gencarnya membangun
pasukan pembasmi ksatria hitam. Untuk hal ini Raja Nandi kerap menghabiskan
harta kerajaan, bahkan demi menutupi kekurangannya, ia memaksa rakyat
khalifans membayar upah kepada kerajaan dengan nilai tinggi. Aslan bergegas
membersihkan tirani kerajaan dan belenggu jahat Raja Nandi dengan meninggalkan
rumah tua prajurit putih yang berat ia tinggalkan.
END
Lanjut ke Jilid 4
: “Titik Awal”

No comments:
Post a Comment