Friday, April 29, 2016

Ksatria Perubahan Part 3


Mulailah Bergerak


Suasana yang membuat bulu kuduk merinding dan kesunyian yang membawa petaka bagi yang memasuki hutan terlarang. Hutan yang sudah ada selama 3 abad ini memiliki sejarah kelam yang tak bisa ditafsirkan lewat ucapan. Wajar hutan ini memiliki kekuatan supranatural yang membuat orang masuk kedalamnya tak akan bisa keluar kembali, melainkan menjadi tulang-belulang atau santapan para monster besar yang orang biasa menyebutnya orge. Kaki mulai lelah dan tubuh bercucuran darah yang masih segar membuat aroma sedap para orge untuk mengendus keberadaan manusia yang dijadikan makananya. Aslan tak tahu lagi jalan keluar dari hutan ini ditambah dengan banyaknya luka ditubuhnya. Deritanya mengatakan bahwa inilah akhir hidupnya, namun semangat jiwa ksatrianya menumbuhkan rasa ingin hidup yang tinggi.
“Ah, aku tidak tau lagi harus kemana, hutan ini seperti labirin yang besar”
“Jika Aku mati disini, tamatlah sudah kerajaan Khalifans, bagaimana pun aku harus berusaha untuk hidup”
Mungkin inilah kebimbangan yang dihadapi Aslan ditambah lagi orge yang mulai lapar itu mulai terlihat , berlari mengejar Aslan.
“Tidak, ada apa lagi ini, sepertinya aku mengendus bau monster yang mau memakanku”
“Ya,Aku harus berlari secepat mungkin, walau derita luka ditubuhku ini menghambat gerak langkahku.
Dengan tergesa-gesa Aslan berlari kepanyangan, berdoa menemukan jalan keluar dari hutan dan terhindar dari kejaran monster orge itu. Namun, akhirnya aslan harus terpaku jatuh dengan tubuh penuh lukanya, ya Aslan tak kuat lagi melangkah, hingga segerombolan orge itu mengintarinya berebut tubuh Aslan yang sudah rapuh itu.
“Hmm, mungkin inilah yang harus aku terima, jatuh di tempat hina ini. Aku sudah tidak kuat lagi tuk melangkah, memang inilah akhirnya aku adalah orang yang gagal menajdi ksatria, memang aku ditakdirkan untuk mati disini. Biarlah tubuh ini menjadi santapan monster”.
Ditengah keputusasan Aslan akan kehidupan, munculah sang prajurit putih. Prajutir putih ini menjadi legenda hutan terlarang, taka da orang yang mau bertemu dengan karena ketakutan akan kemisteriusannya itu.
“Wahai pedangku, bakarlah orge jahat itu”
Aksi heroik yang dilakukan prajurtit putih, yang membakar kawanan orge  dengan tebasan pedangnya dan membebaskan Aslan dari kematiannya. Dengan wajah yang tak kuasa lagi untuk melihat, tubuh Aslan mulai lemas dan jatuh pingsan.
“Hei,nak kau tidak,apa-apa”
“Apakah dia pingsan?
“Ah, dasar merepotkan”
Seketika itu pun prajurit putih membawa Aslan pergi dari hutan terlarang. Disebuah gubuk tua yang berdebu, inilah tempat tinggal penyihir putih itu. Hidup yang hanya ditemani oleh seekor kucing Persia. Dirumahnya terpapar di sebuah rak buku yang berisi manuskrip kuno. Segala sesuatu mengenai ilmu berpedang ada disini termasuk sejarah kemunculan ksatria hitam.
 “Dimanakah aku ini, tempat apa ini”
            Aslan yang mulai siuman dari pingsannya.
Disamping itu terlihatlah Kakek tua yang dijuluki prajurit putih sedang mengatkan tubuh diperapian.
“Permisi, siapakah kau ini,kek,apakah kau yang menolongku”
Dengan wajah masamnya kakek itu menjawabnya dengan rasa acuh tak acuh.
“Yaa, akulah yang menolongmu,jika kau sudah baikkan cepatlah keluar dari sini”
            Prajutrit putih jauh dari pergaulan masyarakat hingga ia tak tau caranya bertutyr kata. Walau demikian,Aslan ingin membuatnya lebih dekat hingga ia memperkenalkan diri padanya.
 “hmh, perkenalkan namaku Aslan, jadi kau yang sudah menolongku. Uh, maaf sudah merepotkanmu, kau sudah menyelamatkan nyawaku ini, bahkan kau sudah mebalut luka ini.
“Wajahmu mirip sekali dengan prajurit putih, apakah kau ini adalah dia?
Inilah pertanyaan Aslan kepadanya yang membuat dirinya khawatir, kegagalan yang berkali-kali untuk memulai sebuah pertemanan.
“Apakah kau takut denganku, aku memilki kekuatannya yang aneh. Ya, memang aku inilah prajurit putih, kau ini banyak bicara. Ketika kau sudah sembuh cepatlah keluar dari rumah tua ini”
Dirinya hanya mengatakan dengan apa adanya dengan nada ego dan tak sedap, seolah ia sudah yakin Aslan akan takut dan mempersilahkan ia pergi. Namun Aslan tidak seperti orang kebayakan, Prajurit putih adalah panutannya ia suka sekali dengan jiwa prajutit yang rela membantu orang lain tanpa pamrih, menunjukan kemampuan hebatnya tanpa jumawa sedikit pun. Dengan hal itulah Aslan menapik semua asumsi prajurit putih, bahkan Aslan menginginkan dirinya menjadi murid sang prajurit putih itu.
“Dasar dungu, kau tidak mengerti ya, aku tidak pernah mengakui dan menjadikan muridku, lagi pula aku ini bukanlah sehebat yang kau banyangkan itu”
Dengan kenyakinannya Aslan ingin membuatnya menjadi gurunya, guru berpedang setelah ia melihat keahlian yang menurutnya jarang dimiliki manusia biasa.
“Kumohon, padamu jadikanlah aku muridmu. Aku sungguh kagum padamu, jiwa ksatriamu serta keahlian berpedangmu itu yang menurutku sungguh luar biasa”
Walau pada akhirnya terketuklah hati Masdar dan menjadikan Aslan murid,namun  ia masih ragu, untuk itu ia menanyakan untuk apa ia berguru padanya, apa tekad dan tujuanya.
“Untuk apa tekadmu, jiwamu dan tujuanmu ini”
            Aslan menunjukan kenyakinannya dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Masdar, Hingga dengan berat hati ia terpaksa mengikuti permitaan Aslan dengan menjadikannya murid.
“Baiklah, kau belum kuanggap sebagai muridku, namun aku akan menerimamu menjadi calon muridku”
            Walau Masdar mengnggapnya sebagai calon murid, hati Aslan sudah senang mendengarnya, jika ia sudah mau mengakuinya.
“Mulai besok bergegasah pergi kebukit itu aku akan mengajarkanmu latihan dasar terlebih dahulu”
            Sebilah pedang yang mulai tumpul diberikan kepada Aslan sebagai latihan pertamanya untuk menjadi murid Masdar.
“Kuasailah teknik ini terlebih dahulu, jika kau focus pada ketahanan otot lenganmu, sebuah tebasan yang mampu menyayat pohon itu akan muncul, walau kau hanya menggunkan pedang tumpul”.
            Dengan pengamatannya, Masdar sudah yakin dengan jiwa ksatrianya walau hanya menebas pohon dengan pedang tumpul. Ditambah lagi ia sudah bisa menebak bahwasanya Aslan putra Asgar akan mengakhiri kemunculan prajurit hitam yang mengancam dunia manusia. Namun, untuk itu Masdar lebih melanjutkan kesesi latihan yang terberat bagi Aslan yaitu dengan bertempur melawan orge raja, Seeokor orge berukuran besar yang uncul secara tiba-tiba yang merusak gubuk tua prajurit putih itu. Demi melihat hasil latihannya, Masdar menyerahkan semuanya kepada Aslan.
“Akan kubuktikan, dengan jiwa,tekad dan kenyakinanku ini, dem mewujudkan cita-citaku menjadi ksatria perubahan. Hasil kerja kerasku, latihan keras bersama guruku akan kuakhiri kau orge jelek dengan tebasan pedang ini.”
            Setelah beberapa menit bertarung dengan orge raja, akhirnya dengan kehebatan berpedang Aslan, orge yang memiliki kelemahan pada jantungnya. Pedang ditebas dan ditusukkan oleh Aslan pada kelemahannya itu. Seketika itu orge raja sudah tak kuasa untuk bangkit, lalulah orge raja itu mati terkapar dihadapan Aslan. Melihat kematian orge raja hasil latihan berpedang selama 1 tahun lebih membuat Masdar, percaya dan yakin Aslan adalah murid terhebat yang dimilikinya, Walau diantara murid Masdar mati setelah bertarung dengan orge raja ini.
“Aslan Kau memang muridku, tidak kau murid kebanggaanku, maafkan aku apabila selama ini meragukan tekad dan jiwa ksatriamu, Aslan kau pantas memegang gelar sang juru selamat, kstaria yang akan mengubah negeri ini”
            Decak kagum pada diri Masdar melihat muridnya sudah, ia anggap sebagai anak. Masdar memperlihatkan dan mengjarkannnya jurus pamungkas kepada Aslan yang selama ini ia tidak pernah ajarkan pada murid yang pernah ia miliki.
“Untuk itulah, saat ini aku akan menunjukkan kepadamu, Extra Saint, jurus pamungkasku, yang akan aku warisi kepadamu Aslan”
            Rasa gembira meliputi hati Aslan, dan Aslan belum pernah merasakan kebahagiaan ini setelah ia medapatkan sanjungan dan ajaran jurus pamungkas Masdar.
“Guru, Aku ucapkan terimaksih kepadamu, aku ingin mewarisi jurus tersebut, aku akan mengabdi pada negeri ini,kan kutunjukkan bahwa kau tak salah memilihku, mewarisi jurus pamungkas ini”
            Semenjak itulah Masdar mulai mengajarkan jurus Extra Saint, jurus yang memfokuskan pada energi alam dan fisik manusia, bersatu padu dan menghasilkan serangan yang luar biasa. Sudah berminggu-minggu Aslan diberi ajaran jurus ini. Hingga pada akhirnya ia mampu menggunakan dengan baik dan benar.
            Mentari pagi sudah tiba, rimbunan hutan dan desahan angin yang pelan membuat suasana alam menyegarkan badan. Pagi yang cerah ini sudah menandakan bahwa Aslan sudah siap memulai perjuangannya,Ya kembali kepada kerajaan Khalifans. Disamping itu Masdar sudah mengabarkannya bahwa ksatria hitam akan bangkit kembali pada malam bulan purnama di tahun ini, tepat tanggal 2 spring. Ya, itulah yang dapat diramalkan oleh Masdar lewat manuskrip kuno. Segel yang dipasang oleh Raja Asgar akan segera terbuka. Itulah batas pelindungnya. Namun, lain dikata Raja Nandi tak mengerti. Ia tak tau dan berlagak jumawa seolah dialah sang juru selamat yang dikabarkan. Melihat hal itu Raja Nandi sedang gencar-gencarnya membangun pasukan pembasmi ksatria hitam. Untuk hal ini Raja Nandi kerap menghabiskan harta kerajaan, bahkan demi menutupi kekurangannya, ia memaksa rakyat khalifans membayar upah kepada kerajaan dengan nilai tinggi. Aslan bergegas membersihkan tirani kerajaan dan belenggu jahat Raja Nandi dengan meninggalkan rumah tua prajurit putih yang berat ia tinggalkan.
END

Lanjut ke Jilid 4 : “Titik Awal”

No comments:

Post a Comment

Quotes

IF YOU CAN'T STAND THE FATIGUE OF STUDY, YOU WILL FEEL THE POIGNANT OF STUPIDITY -IMAM SYAFI'I-

Video of the Day

Contact us

Name

Email *

Message *